Tuesday, November 29, 2016

Berani itu Bukan Nekat


Resensi Buku "Seberapa Berani Anda Membela Islam"


Judul                     : Seberapa Berani Anda Membela Islam
Pengarang             : Naim Yusuf
Penerbit                 : Maghfirah Pustaka
Cetakan                 : cetakan I, Mei 2016
Dimensi Buku       : 145 x 210 x 13 mm
Jumlah Halaman   :  288 halaman
ISBN                     :  978-979-25-26-43-1






"Keberanian sejati mengenal rasa takut. Dia tahu bagaimana takut kepada apa yang harus ditakuti. Orang-orang yang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga. Dan mereka memilih waktu serta tempat yang tepat untuk menyerahkannya Mati dengan penuh kemuliaan".  -- Quote by Yoshikawa Eiji, Mushashi---

 *******

Peristiwa 4 November 2016 yang sudah berlalu, seolah menorehkan sejarah di hati kita, bahwa umat Islam di Indonesia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Lebih dari ribuan orang datang dari berbagai penjuru daerah dengan segala kerelaannya untuk ikut berperan dalam acara besar tersebut. Yang lebih menakjubkan lagi, demo tersebut berjalan lancar dan tertib, selain itu seolah menjadi momen bersatunya umat Islam Indonesia yang selama ini mungkin terpecah-pecah.


Berkaca pada peristiwa tersebut, seolah menyadarkan diri saya untuk lebih berani lagi membela Islam karena kita memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Dan penulis Naim Yusuf dengan bukunya yang berjudul "Seberapa Berani Anda Membela Islam" semakin meyakinkan pemikiran tersebut, sekaligus memberi arahan yang jelas tentang bagaimana menjadi seorang pemberani yang sesuai dengan aturan Islam.


********



Selama ini kita sering tidak dapat membedakan antara berani dengan nekat. Banyak yang membela Islam hanya bermodalkan nekat saja, akhirnya tindakan nekatnya bukan semakin menguatkan Islam, justru sebaliknya makin menghancurkan nama baik Islam. Betapa Islam yang sejatinya merupakan agama yang indah dan menjadi solusi untuk semua umat manusia, mendadak menjadi rusak image nya hanya karena kenekatan sebagian kecil orang yang dianggapnya sebagai bentuk keberanian. 

Nekat identik dengan bertindak impulsif, gampang emosi, temperamental, bersikap tanpa memikirkan resiko, sehingga orang-orang seperti ini sering membuat nama Islam semakin buruk dan menjadi sasaran empuk para oknum tukang adu domba. Sedangkan jiwa pemberani jauh dari ciri-ciri seperti itu. Lalu seperti apa sih sikap pemberani yang sesungguhnya ? . Dalam bab awal buku ini, penulis menuliskan sebuah kalimat motivasi yang begitu membakar semangat, tentang seperti apa sih sikap  seorang pemberani :

"Sesungguhnya sikap pemberani adalah kekuatan jiwa. Pemiliknya dapat mengemban perkara-perkara yang mulia dan menjauh dari hal-hal hina. Kekuatan yang menjadikannya besar meskipun dia kecil, kaya dalam kemiskinannya, dan kuat dalam kelemahannya. Kekuatan yang menjadikannya memberi sebelum menerima, melaksanakan kewajiban sebelum meminta hak ; kewajiban terhadap Tuhannya, diri dan agamanya. Tidak akan berkembang sikap pemberani yang masih kosong dan mendidik ksatria yang shaleh, kecuali dalam naungan akidah yang kuat dan kemuliaan yang kukuh" (Dr.Yusuf al-Qardhawi) (halaman 7).

Dalam buku ini penulis menjabarkan beberapa karakter seorang pemberani yaitu ; 1. mencintai masjid, 2. menyeru ke jalan Allah, 3. bersungguh-sungguh dan tanggap, 4. bersikap aktif dan bertanggung jawab, 5. bercita-cita yang tinggi, 6. mulia dan terhormat, 7. berani di atas kebenaran, 8. berani, 9. berjihad dan berkorban, 10. teguh di atas kebenaran, 11. sabar dan membiasakan diri, 12. memenuhi janji dan jujur pada Allah, 13. tidak mudah putus asa dan pesimis. 


Masing-masing karakter di atas begitu detil dan sistematis digambarkan dalam buku ini,  berikut saya kutip beberapa bagian :



Mencintai masjid merupakan karakter pertama yang harus dimiliki oleh seorang laki-laki pemberani. Sayyid Quthb dalam tafsirnya Fi Zhilal al-qur'an menafsirkan "Cahaya yang memancar dan bersinar di langit dan bumi itu, menyatu dan mengkristal di rumah-rumah Allah, agar hati setiap orang yang ada di dalamnya dapat langsung berinteraksi dengan Allah, menghadap kepada-Nya, berdzikir, takut dan bermunajat kepadaNya. Cahaya itu memberi pengaruh dalam menghadapi berbagai macam cobaan hidup" (Halaman 16). 

Dari pernyataan tersebut, seolah menegaskan pada kita, bahwa kekuatan besar seorang laki-laki pemberani adalah bergantung dari seberapa dalam hatinya terpaut pada masjid. 

Makna "takut" adalah hanya takut kepada Allah dan tidak takut dengan siapa pun kecuali Dia (halaman 25). 

Betapa orang-orang yang memiliki sikap pemberani justru karena memiliki rasa takut yang begitu besar pada Rabbnya. Saat jiwa kita hanya takut pada Allah, maka Allah akan membuat kita berani terhadap apapun dan siapapun.

Keberanian adalah kemampuan mengelola resiko. Keberanian yang terbaik adalah memiliki daya tahan yang besar, berterus terang dalam kebenaran, mampu menyimpan rahasia, mengakui kesalahan, bersikap objektif pada diri sendiri, dan menahan nafsu di saat marah (halaman 144). 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa berani itu bukan nekat yang asal bertindak, namun harus penuh perhitungan, objektif pada diri sendiri, dan sanggup menahan nafsu saat marah, sehingga kekuatan terdalam diri kita mampu kita maksimalkan.


Sabar adalah cahaya yang menerangi para da'i dalam gelapnya permasalahan, membantu mereka menghadapi kesulitan, melindungi mereka dari tindakan serampangan meski kesulitan itu datang bertubi-tubi, dan melindungi mereka dari sikap putus asa dan pesimis, meski banyak rintangan yang menghadang. Karena itu, Rasulullah bersabda, Kesabaran adalah cahaya -- HR Muslim-- (halaman 206).

Masih banyak orang menganggap sabar itu artinya "hanya" menahan penderitaan, padahal sabar yang sesungguhnya adalah terus bergerak mencari solusi dengan penuh ketenangan. Sehingga sabar itu ibarat cahaya yang menjadi obor penerang seseorang yang memiliki jiwa pemberani.

Pada bagian akhir buku ini ditutup dengan sebuah kalimat sebagai berikut : " Badai yang menyerang kapal Islam sangat besar dan ganas. Usaha besar-besaran yang dimunculkan mush-musuh yang keras dan sangat membenci Islam, mengharuskan kaum Muslim sadar kembali dengan petunjuk mereka dan menguatkan hubungan mereka dengan Allah, hingga kemuliaan dan kehormatan kembali pada agama Islam" (halaman 268).

Kalimat tersebut seolah menjadi syok terapi yang ampuh untuk membangunkan pembaca,  agar semakin bersemangat meraih beberapa karakter pemberani yang sudah dipaparkan penulis pada bab-bab sebelumnya.

---------

Kelebihan buku ini adalah penulis mampu menjelaskan beberapa karakter pemberani dengan sangat detil dan sistematis, sehingga pembaca mudah memahaminya. Disamping itu pembahasan tentang masing-masing karakter tersebut selalu diselipkan dengan beberapa kisah-kisah teladan para nabi dan sahabat sholeh/sholehah terdahulu yang menjadi contoh manusia pilihan pemilik karakter-karakter tersebut. Dari kisah-kisah yang dipaparkan, seolah karakter-karakter yang dijelaskan mewujud nyata dalam benak dan memberi spirit luar biasa bagi pembaca. 

Dari awal sampai akhir buku ini saya hampir tidak menemui kekurangan yang berarti, karena penulisannya begitu sistematis, dengan editing yang baik. Namun jika saja bisa ditambahkan sedikit ilustrasi atau gambar, mungkin isi buku ini akan semakin hidup. 

-----------


Membaca buku ini semakin memberi keyakinan saya sebagai pembaca, tentang bagaimana cara memoles beberapa potensi diri agar dapat masuk ke dalam kriteria seorang pemberani yang nantinya dapat menjadi penyumbang kekuatan Islam. Keberanian yang didasari oleh sikap takut kepada Allah akan menjadikan seseorang berani menghadapi apapun, termasuk  berani objektif menilai berbagai kekurangan dirinya. Dan sesorang yang sudah berani objektif menilai kekurangan dirinya, maka dia akan dapat mengenali kekuatan terbesarnya.


#HariBloggerNasional
#lomba
#resensibuku
#maghfirahpustaka


Saturday, October 8, 2016

PERBAIKI DIRIMU, MAKA ALLAH AKAN PERBAIKI REZEKIMU

Kemarin saya dapet surprise karena tiba-tiba dikontak oleh salah satu tim redaksi ummi untuk diminta tulisannya. Surprise yang momennya kerasa pas banget karena pas saya lagi "stuck" dengan assignment. Heu.. Urusan kuliah dari semester awal juga selalu gitu ding haha, tapi ya alhamdulillah di ujung deadline selalu selamat dengan penuh ketegangan karena selalu ngerjain dalam kondisi setengah ngerti setengah ngga, asli cuma ngandelin doa terus tiba-tiba Allah bantu beresin weh dengan ide yang mendadak muncul pas injury time haha. #lap keringet#.



Ok back to the topic... Soal permintaan kirim tulisan, ga sekali ini aja sih diminta tulisan, karena buku ke 2 saya pun merupakan naskah pesanan. Sebagai penulis unyu, dulu rasanya bangga banget diminta naskah oleh sebuah penerbit yang lumayan besar bahkan buku-buku terbitannya beberapa kali pernah meraih penghargaan IBF, sebuah ajang bergengsi di dunia penulisan. Takjub aja gitu saya mendadak diminta naskah oleh penerbit selevel Indiva yang bahkan beberapa tahun silam saya pernah beberapa kali kirim naskah ke sana selalu ditolak hihi.

Dan seharian kemaren tuh saya girang banget gara-gara dapet message dari redaksi Ummi, mungkin di mata orang mah itu biasa aja, apalagi buat penulis yang dah biasa menghasilkan uang dengan nominal besar dari hasil menulis, tapi buat saya yang lagi mengais semangat, message kemaren beneran jadi mood booster banget deh hehe.

Ga tau deh saya ini lebay apa ngga yaa ngerasa seneng kayak gini, secara...sebelum ada message itu pun saya kan memang kontributor ummi online (meski sekarang ga aktif lagi) dan pernah kebagian rezeki dapet predikat best kontributor beberapa kali (alhamdulillah 'ala kulli haal), jadi ya harusnya ga usah ngerasa seneng yang lebaynya gini pisan yak saat pihak redaksi minta tulisan (norak yak ?! Biarin ah hihi). Soalnya untuk edisi ummi cetak mah saringannya ketat, tetep lah beda sensasinya gitu, dimuat di ummi cetak via jalur biasa aja udah susah, so kalau bisa dimuat by request rasa bahagianya pasti dobel gitu deh... Halah.. Apa sih. 


Yaa.. Yang namanya penulis, sebanyak apapun karya nya tetep aja lah ada momen "stuck"nya, apalagi saya dong penulis unyu yang baru punya 2 buku solo hehe. 

Transformasi Diri
Mendadak jadi pengen flash back ke masa lalu deh. Sekitar 8 tahun silam, seinget saya berharap diminta naskah oleh penerbit atau majalah itu rasanya baru sebatas mimpi yang jauh banget dari kenyataan haha.

Dan hari-hari saya dulu dipenuhi dengan target-target gimana caranya bisa menembus media A atau penerbit B, dari mulai genre fiksi, non fiksi semua dijabanin. Teori-teori menulis dan trik-trik menembus penerbit pun saya cobain semua. Namun dari ratusan trial and error cuma secuil yang berhasil. 

Sampai akhirnya saya menemui titik jenuh luar biasa. Menulis yang awalnya jadi hiburan mendadak kayak jadi siksaan akibat target-target yang saya buat sendiri. Dan titik jenuh itu kebetulan bersamaan momennya dengan kehamilam dan kelahiran anak ke 3 sembari harus pindahan beda negara. 

Saya pun kena syndrome yang banyak ditakuti para ibu, yaitu baby blues syndrome yang berlanjut ke post partum depression. Sebuah syndrome yang sanggup merenggut naluri keibuan seorang ibu. Syndrome yang bisa terkena pada siapapun tanpa pandang bulu, meski penampakan umum penderitanya seperti orang yang kurang iman, faktanya syndrome ini ga ada hubungannya dengan keimanan, bener-bener murni karena pengaruh hormonal dan efek kelelahan, meski begitu, keimanan di dada lah yang sanggup jadi penyelamatnya. 

Ya.. Saya malu mengidap syndrome ini, rasanya perih, saya yang sering ngaji tapi isi otak saya seperti penuh bisikan setan semua. Saking malunya, yaa.. Saya keep semua sendiri. Dan saat itu hilang lenyap rasanya keinginan saya untuk menjadi penulis, karena keinginan saya untuk menjadi ibu yang baik jauuuuuuuuh lebih besar menggedor-gedor pintu hati saya. 

Beneran ga percaya, kenapa keinginan untuk jadi ibu yang baik mendadak menjadi begitu sulit diraih, dan membaca buku parenting saat itu seolah membuat saya seperti sedang didudukkan di kursi listrik yang harus bersiap menerima eksekusi. Ada momennya dimana saya bener-bener ketakutan baca buku parenting, saking saya merasa kalau saya ini ibu yang buruk banget. 


Dan... Akhirnya pelan-pelan, saya memberanikan diri mulai menulis lagi, dan dengan penuh kenekatan saya nulis tentang dunia ibu, duh.. Saking takutnya baca buku parenting, namun keinginan jadi ibu yang baik begitu besar, akhirnya saya nekat aja nulis tentang parenting versi saya sendiri. 

Saat itu saya ga pengen apa-apa lagi rasanya deh, keinginan saya cuma satu yaitu pengen naluri keibuan saya segera kembali. Dan akhirnya saya banting setir memutuskan ga akan jadi penulis lagi, namun akan menjadikan menulis sebagai media perbaikan diri saya. 

Saya sangat butuh teman yang mau menemani tanpa banyak menghakimi, dan teman paling pas adalah tulisan-tulisan saya sendiri. Karena kalau saya ceritakan kondisi syndrome saya ke banyak orang, palingan hanya judgemental yang saya dapat, dibilang cengeng lah, drama queen lah, ga bisa bersyukur lah, dan masih banyak lagi. Saya paham mereka begitu bukan ga mau membantu tapi ya memang hanya sebatas itu bantuan yang sanggup mereka berikan. Meski begitu saya sujud syukur punya beberapa sobat yang mau menerima saya apa adanya, mereka lah yang setia menemani masa-masa terpuruk saya. Cuma Allah yang bisa bales pastinya..heu heu..hiks


Akhirnya ... Saya mulai terus rutin menulis status-status FB tentang kebaikan, dimana aslinya saya sedang meng afirmasi diri saya, supaya pikiran negatif yang ada di kepala bisa diblock oleh tulisan-tulisan positif yang saya buat.

Pas awal-awal nulis begitu banyak banget yang nyinyir, sampe ada juga yang bilang, kalau mau menggalau mending tulisannya di simpan di word aja deh, biar ga ganggu orang hihi.

Atau.. Ada juga yang bilang, ngapain nulis-nulis status nasehat kalau tindakan nyata ga ada, kata salah seorang aktivis dunia nyata. Heu.. Yaa saya paham banget lah, kebaikan saya via tulisan pasti ga ada seujung kukunya dibandingkan dengan orang-orang yang banyak berkiprah di dunia nyata. Tapi kalau saya maksain terjun ke dunia nyata dengan kondisi fisik mental babak belur begitu, bisa jadi ga akan kasih manfaat apapun selain cuma cape. Tokh.. Islam itu agama fitrah yang mau menerima siapapun apa adanya kan ? jadi yaa komen para aktivis pun saya biarkan aja, dan saya tetep terus menulis, karena cuma kebaikan itu yang mampu saya lakukan, dengan menangis saya bilang ke Allah, kalau aktivitas menulis saya ini beneran ga membawa kebaikan apapun untuk siapapun, ya sudah ... Semoga masih kepake buat menggugurkan dosa-dosa saya aja, itu dah lebih dari cukup buat saya. Dan sesudah berdoa begitu, anehnya ide menulis saya makin membludak, meski depresi saya belum lenyap total. 


Sampai akhirnya terbitlah buku " Bahagia Ketika Ikhlas". Sebuah buku yang saya tulis dalam kondisi penyerahan diri totalitas pada Allah dengan semua syndrome yang terjadi pada tubuh saya, dan sampe buku itu terbit pun saya masih dalam kondisi "fight" melawan semuanya dan belum sembuh total. Setelah buku terbit , dengan kondisi syndrome yang masih tersisa, saya masih terus rutin menulis. Sampe pada suatu hari ketemu temen yang kebetulan seorang psikolog dalam sebuah seminar, dia bilang "Gila kamu ya.. Ren, dalam kondisi seperti itu kamu masih terus menulis, kok bisaaaa ?!". Saya cuma tertunduk sambil sedikit keluar airmata menjawab "Ya.. cuma itu yang kebayang ama saya supaya syndrome2 itu masih ada dalam kendali saya, sehari aja saya ga nulis tentang kebaikan, saya kayak dibuat tersedot lagi ke dalam situasi mengerikan."

Dan tanpa sadar, semua afirmasi kebaikan yang saya tulis satu demi satu terkabul, dan mimpi saya untuk bisa menggenggam kembali naluri keibuan saya yang hilang akhirnya terwujud. Asli....sujud syukur banget, akhirnya Allah mengabulkan keinginan saya untuk bisa punya fitrah keibuan yang sempat hilang. Dan seiring dengan perbaikan diri saya, eh..rezeki di dunia penulisan pun datang sendiri, kalau 8 tahun lalu, saya bermimpi pengen bisa menembus penerbit A atau media B, sekarang malah tawaran menulis sering datang, ga menjanjikan banyak uang sih, tapi yaa ..diminta tulisan oleh penerbit besar itu pernah jadi mimpi saya di masa lalu, dan mimpi itu ternyata terwujud sendiri justru pada saat saya fokus memperbaiki diri, padahal waktu zaman dulu saya kejar-kejar malah ga dapet-dapet huhuhu...heu heu.

Ya... insya allah akan terus istiqomah menulis, tepatnya menulis untuk memperbaiki diri, karena saya yakin pisan, rezeki mah akan datang sendiri pada orang-orang yang tidak pernah lelah memperbaiki dirinya setiap hari. Bismillah...bantu doain yaaa. hehe

Sunday, June 19, 2016

Adlerian Therapy (Alfred Adler 1870 - 1937)

Introduction 

  • Alfred Adler grew up in Vienna family of 6 boys and 2 girls
  • His early childhood was not happy, because sickly and at age 4 almost died of pneumonia
  • He developed a trusting relationship with his father, but did not feel very close to his mother
  • He was extremely jealous with his brother, Sigmund Freud
  • Adler's early childhood experiences had an impact on the formation of his theory, Adler is an example of a person who shaped his own life as opposed to having it determined by fate. His teacher advised his father to prepare Adler as a shoemaker, not much else.
  • Adler had a passionate concern for the common person and was outspoken about child-rearing resulted in conflict
  • Understanding Human Nature was the first major psychology book to sell hundreds of thousands of copies in the United States
  • Adler was a pioneer of the psychodynamic therapy
Key Concepts
  • His theory starts with a consideration of inferiority feelings, which he saw as a normal condition of all people and as a source of all human striving, >>> inferiority feelings can be striving creativity.
  • Subjective Perception of Reality
  • Social interest and Community Feeling
  • Birth order and Sibling Relationships
Subjective Perception of Reality
  • Adlerian attempt to view the world from the client's subjective perspective frame of reference an orientation described as phenomenological. 
  • Objective reality is less important than how we interpret reality and the meanings we attach to what we experience, and it's called "subjective perception", includes the individual's perceptions, thoughts, feelings, values, beliefs, convictions, and conclusions
Unity And Pattern of Human Personality
  • Adler chose the name individual psychology because he wanted to avoid reductionism, he emphasised the unity and indivisibility of the person and stressed understanding the whole person in the context of his or her life
  • The holistic concept implies that we cannot be understood in parts >> the focus is on understanding whole persons within their socially embedded contexts (family, culture and work) >>> the client is an integral part of a social system.
  • Individual psychology assumes that all human behaviour has a purpose >> basic assumptions that we can think, feel and act in relationship to our goal , we can be fully understood only in light of knowing the purposes and goals toward which we are striving. Although Adlerians are interested in the future, they do not minimise the importance of past influences.
  • Many Adlerians use the term fictional finalism to refer to an imagined life goal that guides a person's behaviour, and replaced it with "guiding self-ideal" and "goal of perfection" to account for our striving towards superiority or perfection
  • The recognition of inferiority feelings and the consequents striving for perfection - they are 2 sides of the same coin
  • This inferiority is not a negative factor in life
  • Individual's lifestyle : The movement from a felt minus to a desired plus results in the development of a life goal, which in turn unifies the personality and the individual's core beliefs and assumptions >>> connecting themes and rules of interaction that give meaning to our action
Social Interest and Community Feeling
  • Social interest is the action line of one's community feeling, and it involves being as concerned about others as one is about oneself >> is the central indicator of mental health. As social interest develops, feelings of inferiority and alienation diminish.
  • Community feeling embodies the feeling of being connected to all of humanity - past, present, and future - and to being involved in making the world a better place. If our senses of belonging is not fulfilled, anxiety is the result
  • These terms refer to individual's awareness of being part of the human community and to individuals attitudes in dealing with the social world
  • We must successfully 3 universal life tasks : building friendships (social task), establishing intimacy (love - marriage task), Contributing to society (occupational task) >>> requires the development of psychological capacities for friendship and belonging, for contribution and self-worth, and for cooperation.
  • The aim of therapy is to assist clients in modifying their lifestyle so they can more effectively navigate each of these tasks
Birth Order and Sibling Relationships
  • The Adlerian approach is unique in giving special attention to the relationships between siblings and the psychological birth position in one's family
  • Birth order is not a deterministic concept but does increase an individual's probability of having a certain set of experiences
  • Actual birth order is less important than the individual's interpretation of his or her place in the family
  • Birth order and the interpretation of one's position in the family have a great deal to do with how adults interact in the world
  1. oldest child ; becoming model child, bossing younger children, exhibiting a high achievement drive
  2. second child ; she or he in a race and generally under full steam at all times
  3. middle child ; often feel squeezed out
  4. youngest child ; always the baby of the family and tends to be the most pampered one
  5. The only child ; she or he may not learn to share or cooperate with other children

Assumptions
  • Adler stresses the unity of personality, all aspects of ourselves must be understood in relationship
  • Non pathological perspective, don't label clients with pathological diagnoses
  • Don't view clients as being "sick"
  • The recognition of inferiority feelings and the consequent striving for perfection or mastery are innate - they are 2 sides of the same coin
  • The inferiority is not a negative factor in life

Therapeutic Goals
  • The main aim of the therapy is develop the client's sense of belonging and to assist in the adoption of behaviours and processes characterised by community feeling and social interest
  • In general , the therapeutic process includes : forming a relationship based on mutual respect, a holistic psychological investigation or lifestyle assessment, disclosing mistaken goals and faulty assumptions within the person's style of living >> reeducation or reorientation of the client toward the useful side of life
  • To assist clients to understand their unique style, and don't view clients as being "sick" 
  • The counselling process focuses on providing information, teaching, guiding, and offering encouragement to discouraged clients >> the most powerful method available for changing a person's beliefs, to build self confidence and stimulates courage
  • Courage : willingness to act even when fearful in ways that are consistent with social interest >> fear and courage go hand in hand >> without fear, there would be no need for courage >> the loss of courage results in mistaken and dysfunctional behaviour
  • Providing clients with a new "cognitive map" >> assist them in changing their perceptions >> educate clients in new ways of looking at themselves, others, and life
Therapist's Function and Role
  • When individuals develop a life story that they find limiting and problem saturated, the goal is to free them from that story in favour of a preferred and equally viable alternative story
  • Adlerian counselors realise that clients can become discouraged and function ineffectively because mistaken beliefs, faulty value and useless or self-absorbed goals
  • Therapist tend to look for major mistakes in thinking and valuing such as mistrust, selfishness, unrealistic ambitions, and lack of confidence
  • A major function : to make a comprehensive assessment of the client's functioning >> gather information about style of living by means of a questionnaire on the client's family constellation (includes parents, siblings, and other living in the home, life tasks and early recollection)
  • Early recollection are defined as stories of events that a person says occurred (one time) before he or she was 10 years of age >> specific incidents that clients recall, along with the feelings and thoughts that accompanied these childhood incidents
  • The process of gathering early memories is part of what is called a "lifestyle assessment", which involves learning to understand the goals and motivations of the client >> viewed dreams as a rehearsal for possible future actions
  • In interpreting dreams, the therapist considers their purpose function >> dreams serve as weather vanes for treatment, bringing problems to the surface and pointing to the patient's movement
Client's Experience in Therapy
  • People fail to change because they do not recognize the errors in their thinking or the purpose their behaviours, do not know what to do differently, and are fearful of leaving old patterns for new and unpredictable outcomes
  • Private logic >> the concepts about self, others and life that constitute the philosophy on which an individual's life style is based >> clients problems arise because the conclusions based on their private logic often do not conform to the requirements of social living
  • The heart of the therapy is helping clients to discover the purpose of behaviours or symptoms and the basic mistakes associated with their personal coping
  • Learning how to correct faulty assumptions and conclusions is central to therapy
  • Adlerian see feelings as being aligned with thinking and as the fuel for behaving. 
  • Through the therapeutic process, the client will discover that he or she has resources and options to draw on in dealing with significant life issues and life tasks
Relationship Between Therapist and Client
  • Adlerian consider a good client - therapist relationship to be one between equals that is based on cooperation, mutual trust, respect, confidence, collaboration, and alignment of goals
  • Adlerian therapists strive to establish and maintain an egalitarian therapeutic alliance and a person-to person relationship with their clients
  • Developing a strong therapeutic relationship is essential to successful outcomes
  • Developing a contract is not a requirement of Adlerian Therapy, but a contract can bring a tight focus to therapy >> begin to formulate a plan, or contract, detailing them from successfully attaining their goals, how they can change nonproductive behaviour into constructive behaviour, and how they can make full use of their assets in achieving their purposes. 
The Process of Therapy ( Phase 1 : Establish The Relationship)
  • Focus on making person to person with clients rather than starting with the problem
  • Focus on objective experiences of the clients with the main techniques are attending and listening with empathy
  • Provide a wide-angle perspective that will eventually help the client view his or her world differently
The Process of Therapy ( Phase 2 : Explore The Individual's Psychological Dynamics )
  • The aim of this phase : to get a deeper understanding of an individual's social and cultural context
  • Integrated summaries from "Subjective and objective Interviews" with the clients
  • Assist client to identify and examine some of their common fears
The Process of Therapy (Phase 3 : Encourage Self- Understanding and Insight)
  • Promoting self understanding and insight
  • Insight : understanding translated into constructive action
  • Interpretation deals with clients underlying motives for behaving the way they do in the here and now
  • Helps the client understand the limitations of the style of life the clients has chosen
The Process of Therapy (Phase 4 : Reorientation and Reeducation)
  • Focuses on helping clients discover a new and more functional perspective
  • Reorientation : involves shifting rules of interaction, process and motivation
  • Encouragement is the central to all phases and counselling therapy
  • Adlerian practitioners focus on motivation modification more than behaviour change and encourage clients to make holistic change on the useful side of living
Areas Application
  • Education : advocated training both teachers-parents in effective practices that foster the child interest and result in a sense of competence and self-worth
  • Parent Education : to improve the relationship between parent - child by promoting greater understanding and acceptance
  • Couple Counseling : to assist a couple's beliefs and behaviours while educating them in more effective ways of meeting their relational goals
  • Family Counseling : contributed to the foundation of the family therapy perspective
  • Group Counseling : inferiority feelings can be challenged and counteracted effectively in groups
The Strength of Adlerian Therapy
  • Adlerian approach is flexibility and integrative nature
  • Quickly establishing a strong therapeutic alliance
  • Make a clear problem focus and goal alignment
  • Rapid assessment and application to treatment
  • Bringing a time limitation therapy, so that change will occur in a short period
  • Focus on clients strengths, abilities and an optimistic expectation of change


Limitations of Adlerian Therapy
  • His written presentation are often difficult to follow, because he placed practicing and teaching before organising and presenting a well- defined and systematic theory


Summary
  • Individual Psychology assume that people are motivated by social factors
  • The therapeutic process helps individual becomes aware of their patterns and make some basic changes in their of living >> lead to changes feel and behave
  • Therapy is cooperative venture that challenges clients to translate their insight into action in the real world

References :
Corey, G. 2013. Theory and Practice of Counselling and Psychotherapy. 9th Edition. Singapore



Friday, January 1, 2016

Resensi Buku "Bukan Emak Biasa"


Judul buku     : Bukan Emak Biasa

Penulis           : Fitri Ariyanti Abidin

Penerbit          : P.T Kaba Media Internusa

Tahun Terbit  : Desember 2015

ISBN             :  978 - 602 - 71874 - 9 - 8



Membaca judul buku ini bisa jadi kita terjebak, apalagi saat menelusuri latar belakang penulisnya yang seorang psikolog anak, plus sebagai working mom dengan segudang prestasi yang kebetulan memiliki 4 orang anak dengan deretan prestasi juga.


Bisa jadi kita mengira isi buku ini dipenuhi berbagai macam tips dan trik tentang bagaimana sih menjadikan anak-anak selalu hebat, atau mungkin juga kita menebak..waah... Kayaknya isinya akan dipenuhi dengan tips dan trik tentang bagaimana menjadi ibu super ideal yang tanpa cacat sesuai dengan standar ideal ilmu parenting yang kebanyakan beredar selama ini. 



No... No... No... Sayangnya tebakan itu salah total, bukan... buku ini ga ngomongin soal itu ? Loh kok ?? Jadi ngomongin apa dong ? Inilah yang bikin buku ini terasa "bukan buku biasa", karena isinya bukan "ceramah" soal teori pendidikan anak atau teori jadi ibu ideal, seperti yang sering kita temui pada kebanyakan buku parenting lainnya.



Terus jadi isinya apa dong ?!



Dibawah judul buku, tertulis kalimat sub judulnya yaitu "refleksi psikologis pengasuhan anak". Naah... aslinya itulah yang diceritakan dalam buku ini, hampir semua kisah yang ditulis dalam buku ini semacam "muhasabah diri" sang penulis saat mengasuh anak-anaknya. Betapa dengan profesinya sebagai seorang psikolog tidak lantas membuatnya mudah "membumikan" semua ilmu yang dimilikinya saat harus mengasuh keempat anaknya. 



Dalam kata pengantar dengan segala kerendahhatiannya penulis berkata "psikologi itu untuk anda, bukan untuk saya". 



Seloroh itu diungkapkan sekedar menggambarkan bahwa ilmu yang didapatkan penulis atas nama profesinya sebagai seorang psikolog ternyata tidak serta merta membuat perjuangannya dalam mengasuh anak menjadi lebih ringan, tetap saja penuh tantangan, tetap saja ada galau, ada stres dan bahkan ada airmata. 



Yang terasa luar biasa buat saya yaitu kemampuan beliau dalam menarik hikmah dari semua kumpulan fragmen yang dia kisahkan dalam seluruh buku ini. 



Ya.. Semua tulisan yang ada dalam buku ini memang merupakan kumpulan fragmen kisah kesehariannya dalam mengasuh keempat anaknya. Ditulis dalam bahasa ala blogger yang sangat ringan, namun memiliki muatan "berisi" karena kemampuan beliau membingkai masing-masing fragmen      tersebut menjadi kumpulan kisah penuh hikmah yang bikin nyesss hati pembaca. 



It's like a magic... Banyak teori-teori berat yang dia ambil dari buku textbook mendadak berubah menjadi bahasa ringan khas nya gaya blogger gitu deh, karena awalnya kumpulan kisah ini beliau ditulis dalam blog pribadinya.


Penasaran mau ngintip dikit ga bukunya ? Yuki... mariiiii !!

Diawali pada bab pembuka dengan judul " Nyala Api Kehidupanmu, Nikmatilah", dalam fragmen ini di awal kisah penulis bercerita tentang stres nya beliau dalam menghadapi anak bungsunya yang bernama Azzam, yang kebetulan lagi hobi banget sama nangis, terus nyambung dengan cerita berbagai kerepotan lain saat harus mengurus semua anaknya, hingga dirinya merasa "ter-occupied" oleh urusan anak tersebut. Namun di ending cerita beliau baru sadar bahwa nyala api kehidupannya justru dari segala kerepotan yang dia hadapi saat harus mengurus semua anaknya. Yang bikin touching banget yaitu pas beliau cerita lagi belanja ke pasar ternyata dia merasa hampa karena ga jadi beliin makanan untuk anak-anaknya yang kebetulan lagi liburan di rumah neneknya. Betapa akhirnya beliau baru "ngeh" bahwa kerepotannya selama ini yang membuat dirinya merasa begitu berarti, karena saat anak-anak ga ada bahkan ke pasar aja jadi ga semangat.


Lalu masuk ke fragmen berikutnya yang berjudul "Who Is Our Children's True Love", yang menarik dari kisah ini dengan jujurnya beliau menceritakan kegamangannya sebagai seorang working mom yang khawatir kehilangan cinta anaknya karena harus rebutan "cinta" dengan pengasuh, dan betapa bahagianya beliau saat mendapati anaknya ternyata tetap mencarinya di saat sakit. Haha. Ada satu textbox bagus dalam bab ini yaitu : "Salah satu indikator seseorang itu menjadi figur kelekatan emosi buat anak adalah ketika figur tersebut dicari anak saat mereka merasakan emosi negatif"



Masuk pada bab yang berjudul "Film-film Pixar, Franklin The Turtle, Sinetron Indonesia dan Umar Bin Khatab", dalam fragmen ini penulis bertutur tentang kesukaan beliau pada karakter tokoh-tokoh film produksi Pixar karena sering menampilkan sosok tak sempurna sebagai tokoh utamanya, dimana ini susah ditemukan pada sinetron indonesia. Kebanyakan tokoh pada sinetron indonesia menampilkan sosok yang kalau baik yaa baik banget dan kalau jahat pun jahat banget, sehingga penggalian emosinya pun terasa dangkal. Dan penulis juga mengulas kisah Umar Bin Khatab seorang yang dijamin masuk surga, padahal memiliki kekurangan yaitu pembawaannya yang keras dan kasar, penulis menitikberatkan betapa penerimaan tulus atas kekurangan pada diri umar itulah justru yang mampu mengantarkan umar ke surga. Pesan besar yang ingin dibawa penulis pada fragmen ini yaitu betapa penerimaan atas kekurangan itu sangat penting, karena di titik itulah akan terbuka banyak kekuatan. Begini kutipan kalimatnya "menampilkan diri sebagai orangtua sempurna yang tak pernah melakukan kesalahan itu banyak jebakannya. Pelajaran penting yang di dapat anak saat melihat kita begitu sempurna amat sedikit dibandingkan ketika mereka melihat kita melakukan kesalahan dan berusaha memperbaikinya, atau saat mereka melihat kita mengalami kesulitan dan kita berjuang mengatasinya."


Tentu saja masih banyak kisah lain yang ditemukan dalam buku ini, sengaja saya hanya ambil 3 bab saja biar makin penasaran, karena yang lainnya mah lebih seru hehehe.


Kesimpulan besar yang berhasil saya petik dari buku ini yaitu penulis memiliki kekuatan mendengar dan menyimak yang sangat luar biasa, karena bingkai-bingkai yang dia susun pada semua fragmen kisahnya rasanya sulit ditemukan pada orang yang tidak sanggup menegakkan indra pendengarannya dengan maksimal. Rasa cintanya yang besar pada anak plus rasa cintanya yang besar juga pada profesinya membuat beliau mampu menghayati perannya sebagai ibu plus profesinya seorang psikolog, dimana rasa "unconditional love" nya itu krasa banget membuncah pada semua penuturan kisah yang ada dalam buku ini. Mendadak saya kangen dengan sesi konsul dengan beliau, secara saya pernah ngoceh selama hampir 1 jam lebih tanpa jeda dan beliau asli "hanya" duduk diam menyimak dengan seksama,  itu belum ditambah dengan chattingan WA saya yang suka "ujug-ujug" datang ga pake ngeliat jam...hahah.


Satu pesan beliau untuk ibu-ibu semua, bahwa sifat RahmanNya Allah sesungguhnya sudah Allah titipkan pada rahim semua ibu, karena dari sanalah anak-anak kita dilahirkan, sehingga potensi menjadi ibu yang baik itu memang sudah ada, namun batasan baiknya seperti apa sesungguhnya setiap ibu memiliki keunikannya sendiri, begini kutipan lengkapnya :

Buat saya, gambaran ibu yang istimewa itu, tak dibatasi dimensi-dimensi “kasat mata”- bekerja atau tidak bekerja, homeschooling atau tidak, berhati lembut atau tidak, atau hal-hal lain yang sering digambarkan sebagai ibu ideal. Buat saya, yang paling memesona dari seorang ibu adalah, saat ia menjadi “dirinya sendiri”. Dengan gayanya, keunikannya, keresahannya, tapi terus bergerak. Ia menangis, tapi tak menyerah. Maka, siapapun bisa jadi ibu yang istimewa. Buat saya, semua ibu adalah istimewa.





Friday, November 6, 2015

Kemandirian Financial Vs Kemandirian Psikologis, Lebih Baik yang Mana Dulu ?



Beberapa kali saya pernah mendapat inbox dari sesama wanita yang curhat soal KDRT yang dilakukan oleh pasangannya terhadap dirinya, baik itu secara  fisik atau mental, dan mereka lalu bertekad ingin memiliki bisnis sampingan agar dapat mandiri secara financial, dengan keyakinan bahwa itulah salah satu solusi membebaskan diri dari KDRT yang menimpa dirinya.


Lalu benarkah itu bisa jadi solusi ?


Sementara pada kasus lain saya pernah melihat seorang wanita yang sangat mandiri secara financial namun nyatanya tetap saja tidak bisa membebaskan diri dari kondisi KDRT yang terjadi pada dirinya, malah yang terjadi bahkan lebih parah dari sebelum saat dirinya belum mandiri secara financial... heu heu. 


Heu... ekstrim banget ya saya ngomongnya langsung kasus KDRT, bukan apa-apa, karena sebagian wanita yang menginginkan kemandirian secara financial motivasi awalnya karena merasa diri "terkungkung", dari yang hanya karena bosan dengan rutinitas sebagai ibu rumah tangga, atau ingin bebas punya uang sendiri tanpa harus "nodong" sama suami, hingga alasan tertekan karena KDRT.

Seolah kemandirian financial itu identik dengan bentuk pembebasan diri seorang wanita....heu heu. 


Wanita yang kerap merasa diri "dipenjarakan" lalu beramai-ramai ingin "bebas" dengan mengikatkan diri pada uang, alasannya... yaa... ingin mendapatkan kemandirian financial, yang jadi pertanyaannya apakah setelah mendapatkan kemandirian financial, perasaan "bebas" itu benar-benar akan dirasakan ? Terus gimana kalau endingnya kok ngga jugak,...xixi, atau jika pun ada yang merasa "bebas" eh malah ujungnya asli beneran "bebas" alias lepas ikatan dari suaminya, sudah jadi rahasia umum saat wanita memiliki kekuatan secara materi maka bersikap taat pada suami seolah menjadi kerja ekstra berkali-kali lipat dibanding saat sebelum memiliki kekuatan materi...heu heu.


Eh...saya ngomong begini bukan berarti nyari bisnis sampingan itu dilarang, saya cuma mau bicara soal motivasi, jika pun ingin memiliki bisnis sampingan, janganlah buru-buru disandarkan pada "materi" sebagai motivasi besarnya, karena itu pondasi yang sangat rapuh banget, bahkan bisa jadi belum tentu jadi solusi jika ingin mendapatkan perasaan bebas. 

Sedangkan saat motivasinya kita ubah, bisa jadi usaha bisnis sampingan kita justru akan memiliki pondasi yang sangat kokoh, dan disaat yang sama bisa jadi mampu memperbaiki kondisi rumah tangga terutama untuk yang memiliki kasus KDRT. 


Bahwa wanita harus mandiri, saya setuju banget, namun yaa..jadilah wanita yang benar-benar mandiri, bukan mentransformasi perasaan terpenjara ke dalam bentuk penjara yang lainnya, dari yang awalnya merasa "terpenjara" dengan perannya sebagai "istri" atau "ibu", kemudian mengikhlaskan diri "dipenjara" oleh uang dan materi.

Makannya saya jadi kepikiran sebelum kita buru-buru mengejar "kemandirian financial" kayaknya lebih baik mengejar "kemandirian psikologis" dulu deh, karena ternyata banyak sekali wanita yang secara psikis ga mandiri, makannya dia merasa perannya sebagai "ibu" atau "istri" membuatnya merasa tidak berdaya, padahal seharusnya melalui kedua peran itulah perasaan berdaya itu justru dapat ditumbuhkan.


Ikatan pernikahan atau rumah tangga itu sebuah sistem, dimana target sakinah itu haruslah hasil dari kerja bersama antara suami dan istri, bukan kerja suami saja atau kerja istri saja. Sehingga ini tentu saja bakal sulit terjadi jika peran sebagai "istri" dan "ibu" justru malah membuat banyak wanita merasa tidak berdaya, jika kondisinya seperti ini, yaa... jangan langsung menyalahkan suami dong yah kalau dia seolah sedang "memperdayakan" kita, "mungkin" sebenarnya bukan suami yang sudah membuat kita tidak berdaya, bisa jadi diri kita sendiri yang menciptakannya, sedang suami hanya "menyetujui" saja, yang ditunjukkan dengan fitrahnya sebagai pemimpin yang cenderung memiliki ego kuat. 

So.. sebenarnya rasa tidak berdaya yang sudah diciptakan oleh diri kita sendiri akan memantul kepada suami, sehingga ego dia makin kuat, dan makin tidak berdaya memoles fitrah kepemimpinannya. Menurut pendapat saya para suami yang kerap melakukan KDRT atau sebaliknya para suami-suami takut istri adalah jenis-jenis suami yang "tidak berdaya" menghebatkan potensi kepemimpinan yang ada pada dirinya, karena pemimpin sejati itu adalah yang mampu mengayomi bukan main potong kompas dengan bersikap otoriter atau sebaliknya malah takut sama istri. Melakukan tindak kekerasan adalah cara paling primitif menegakkan fitrahnya sebagai pemimpin, sedang lembek pada istri adalah sikap malas mengerahkan segala potensi dirinya, sehingga memilih "manut" aja gimana kata istri :-D.


Balik lagi ke soal ketidakberdayaan istri, saat saya coba merenung lagi... ternyata bukan peran "ibu" dan "istri" yang membuat kita tidak berdaya, karena ternyata setelah dipikir-pikir melalui kedua peran itulah optimalisasi pemberdayaan diri kita paling maksimal, dimana nantinya powernya akan kepake banget saat kita memutuskan untuk memiliki bisnis sampingan.


Melalui kedua peran itulah sebenarnya fasilitas pemberdayaan diri kita terus terasah, karena kedua peran itu merupakan "bisnis langit" dengan bayaran surga, dimana saat kita tulus top to the max, maka semua potensi diri kita akan keluar maksimal tanpa sisa hingga ke akar-akarnya, dimana nantinya potensi diri itu kepake banget saat kita memutuskan untuk memiliki bisnis sampingan.

Nah... makannya buat para wanita yang ingin memiliki "kemandirian financial" dengan harapan supaya lebih berdaya, pastikan memiliki "kemandirian psikologis" terlebih dahulu dalam dirinya, caranya dengan terus memaksimalkan peran kita di dalam keluarga dengan penuh ketulusan, sehingga melalui peran "ibu" dan "istri" itulah "kemandirian financial" nanti akan diraih. Ini penting supaya perasaan "bebas" itu benar-benar akan dirasakan, bukan hanya sekedar perpindahan bentuk penjara saja, yang asalnya terpenjara karena menjadi "ibu" dan "istri. berubah menjadi terpenjara karena uang. Dan saat "kemandirian psikologis" sudah berhasil diraih, maka proses menuju "kemandirian financial" akan memiliki pondasi yang sangat kokoh, bahkan mampu mengokohkan ikatan pernikahan bukan membuat kita lupa daratan lalu ingat lautan... #eh#.

Dan wanita-wanita yang merasa berdaya seperti ini, perasaan berdaya nya itu akan memantul tuh pada suami, sehingga suami pun akan gigih memoles terus fitrah kepemimpinannya, dengan tidak mau lagi bersikap otoriter atau sebaliknya lembek pada istri dan malas mendidik istri, berubah menjadi laki-laki yang terus mengayomi istri, dimana nantinya akan memantul ke anak-anak juga. So.. endingnya bisnis sampingan yang dijalani akan memiliki pondasi yang sangat kuat, bahkan makin mengokohkan pondasi keluarga.


Mendadak jadi keinget lagi kata-kata Pa Ridwan Kamil, bahwa keluarga itu pondasi peradaban kita.




Semoga ga ada yang tersinggung yaa dengan tulisan ini, ga lagi menyinggung siapapun, aslinya lagi menelusuri motivasi-motivasi diri aja sih hehe.